
Rumah tangga dan lingkungan kantor bukanlah dua hal yang terpisah. Justru, keduanya merupakan satu rangkaian aktivitas yang saling melengkapi satu sama lain. Para perempuan yang bisa memadukan rumah tangga dan lingkungan kantornya sebagai sarana untuk mengembangkan dirinya akan keluar sebagai sosok yang sukses.
Demikian disampaikan oleh Setia Milatia Moemin, Direktur Utama Perum Damri, kala menjadi salah satu pembicara Talkshow dalam Perayaan Hari Ibu Seluruh BUMN di Auditorium Plaza Mandiri, Jakarta, pada 22 Desember 2020 lalu. Dipandu oleh Ersa Mayori, setia bersama empat direktur BUMN lainnya berbagi pengalamannya sebagai pemimpin wanita di perusahaan BUMN.
Setia sendiri tidak sepakat tentang dikotomi antara keluarga dan pekerjaan. Padahal, seorang perempuan bisa mengelola keduanya tanpa harus mengorbankan satu sama lain. “Hal yang penting ada di diri kita sendiri,” tandas direktur utama perempuan pertama di DAMRI ini.
Menurutnya, seorang perempuan harus punya kesungguhan hati seperti layaknya di rumah. Sebagai ibu, lanjut Setia, seorang perempuan akan mengurus keluarganya dengan hati yang bulat, sungguh-sungguh, dan percaya diri. Sikap yang sama seharusnya diterapkan ketika keluar rumah dan bekerja di kantor. Mereka seharusnya menjadi pimpinan yang baik kala bekerja secara profesional. “Jadi, dikotomi itu tidak perlu ada. Karena apa yang kita kerjakan di rumah, itulah yang kita kerjakan di kantor,” ungkap sosok yang akrab disapa Tia ini.
Setia kemudian mencontohkan dengan seorang ibu yang akan membimbing anak-anaknya dengan baik untuk mengerjakan tugas-tugas dari sekolah. Di lingkungan kantor, hal yang sama bisa diterapkan untuk membimbing timnya guna membangun kerjasama yang baik. “Naluri yang digunakannya sebenarnya sama,” simpul alumni Teknik Sipil Transportasi Universitas Indonesia ini.
Rumah sendiri, bagi Setia, merupakan tempat yang istimewa baginya untuk menumbuhkan kompetensi dirinya. Di rumah, dia belajar dan berlatih untuk menjadi pemimpin dengan membimbing anak-anaknya dan memenuhi kebutuhan anggota keluarganya. Di rumah pula, dia ditempa dengan berusaha menyelesaikan permasalahan yang ada sebaik-baiknya. Baginya, kuncinya kesungguhan hati dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan keluarga.
Kesungguhan hati sendiri Setia contohkan dengan ibu yang mengurus anak-anaknya di rumah dengan hati yang bulat, serius, dan percaya diri. Pun ketika keluar rumah dan berkarir di kantor. Kesungguhan hati ini harus turut serta dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan dan menorehkan prestasi. Bila kita setengah hati dalam bekerja, bagi Setia, hal tersebut justru menyia-nyiakan kepercayaan dari keluarga.
Setia sendiri mengajak para Srikandi untuk menjadikan hidupnya semudah mungkin. Artinya, kita tidak perlu membebani pikiran dengan hal-hal yang tidak perlu. Hal ini beliau lakukan ketika bergabung dengan DAMRI untuk pertama kalinya. Kala itu, banyak yang menyangsikan kemampuannya memimpin perusahaan transportasi plat merah tersebut. Namun, Setia tidak ambil pusing dan fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Selain itu, dia juga memilih untuk menjadi diri sendiri, alih-alih tertekan dengan pandangan orang lain terhadap dirinya.
Wanita kelahiran 24 Maret 1961 ini juga mengajak para Srikandi untuk melengkapi “simple life” dengan banyak berdoa kepada Tuhan dan melihat segalanya merupakan sajian dari-Nya. Menurutnya, kehidupan pekerjaan akan selalu ada akhirnya, misalnya pada saat waktu pulang kerja. Namun, kehidupan rumah tangga tidak pernah ada beresnya. “Sampai tidur pun kepikiran (urusan rumah tangga),” kisah Setia.
Baginya, kondisi di rumah tangga tersebut merupakan jalan pelatihan terbaik bagi dirinya dengan metode continuous improvement. Di dalamnya, perempuan tidak pernah punya pilihan dan harus selalu mampu menyelesaikan segala masalah yang ada, tanpa menggantungnya. Menurut Setia, kondisi di rumah tangga sendiri jangan dijadikan sebagai halangan bagi perempuan untuk berkembang. Sebaliknya, permasalahan rumah tangga justru merupakan proses untuk pematangan dan pengayaan diri perempuan sendiri.
Mudahnya, lanjut mantan Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) DKI Jakarta ini, permasalahan dalam rumah tangga tersebut dilihat sebagai pengajaran Tuhan terhadap seseorang. “Bila orang lain bilang lagi dapat ujian, tapi kalau saya, Tuhan lagi kasih pelajaran apa ya sama saya?” ungkap Setia.
Bagaimana pun, tidak ada yang instan di dunia ini. Setiap kesulitan merupakan proses perjalanan seseorang untuk memperkaya pemikirannya dan mematangkan dirinya. Bila seorang perempuan mampu melewatinya, Setia yakin mereka akan lebih tangguh dan mampu melakoni peran ganda dengan baik. “Betapa hebatnya seorang perempuan yang bisa menangani keduanya (rumah tangga dan pekerjaan), dan sampai hari ini pun saya masih belum mampu membuatnya seimbang,” tutup Setia.***