Sumber Foto: Dokumentasi Humas PLN.
Untuk pihak-pihak yang masih meragukan kemampuan perempuan untuk berkiprah di dunia kerja dan membangun karir, kiranya kisah dua Srikandi Perusahaan Listrik Negara (PLN) berikut dapat menjadi pengingat betapa jauhnya pendapat itu dari kebenaran.
Dikutip dari ANTARA, ada peran dua perempuan tangguh di garis depan penanganan pascabencana badai siklon tropis Seroja yang menghantam Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Mereka adalah Rosalia Widya Astuti Chandra dan Putri Ramadani, yang terjun langsung menjadi tim relawan PLN serta bekerja di garda terdepan di tower 19 dan 20 yang roboh akibat bencana di pulau Timor.
Dua Kartini tersebut merupakan putri daerah asal NTT yang bertugas di Unit Layanan Transmisi, dan Gardu Induk Mamuju, Sulawesi Barat. Mereka terbang dari Mamuju menuju kampung halaman.
Seperti diketahui Akibat dari bencana tersebut khusus untuk pulau Timor saja, dua menara Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) bertegangan 70 kilovolt (kV) patah dan roboh. Kerusakan tower atau menara transmisi tersebut berdampak pada padamnya sistem kelistrikan di empat kabupaten, yaitu Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU) dan Belu.
Untuk mengatasinya, PLN akhirnya berhasil membangun menara darurat (tower emergency) setinggi 61 meter. Dari estimasi waktu perbaikan selama 1 bulan, ternyata proses perbaikan dapat dilakukan dalam waktu 10 hari saja.
“Menjelang badai hari itu, saya sudah mulai cemas melihat stories di media sosial teman-teman. Saya melihat hujan begitu besar dan cuaca sangat buruk,” ungkap Rosalia Widya Astuti Chandra, akrab disapa Widi (23 tahun), mulai berkisah.
Widi merupakan lulusan Politeknik Negeri Kupang dan bergabung menjadi bagian PLN dengan jabatan Junior Engineer Pemeliharaan Transmisi sejak tahun 2020.
Ketika badai dahsyat melanda, terbersit rasa cemas dalam diri Widi. “Saya khawatir dengan kondisi keluarga saya yang berada di Kupang,” ceritanya.
Widya mengaku takut. Belum pernah dia melihat peristiwa bencana alam seperti ini seumur hidupnya. Banyaknya berita di berbagai media yang menampilkan banyak daerah yang hancur dan banyak korban meninggal dunia akibat bencana itu membuat dirinya sedih.
Ia bertutur tentang keputusannya untuk bergabung dengan tim relawan PLN tanpa pikir panjang.
“Begitu manajer saya memberitahu info pembukaan relawan untuk pemulihan kelistrikan NTT, tanpa pikir panjang saya langsung mendaftarkan diri. Ternyata disetujui. Saya langsung berangkat ke Kupang untuk bergabung dengan relawan lain di lokasi,” ujar dia sambil tersenyum.
Panggilan untuk menjadi relawan juga dirasakan Putri Ramadani. Gadis berusia 23 tahun ini bekerja di bagian Operasi dan pemeliharaan transmisi.
Sebagai tim relawan PLN, Widi dan Putri bertugas mengurus masalah persediaan logistik.
Keduanya memastikan semua kebutuhan personel yang bekerja di lokasi bisa terpenuhi dengan baik.
“Meski saya dan Widi perempuan, kami tak hanya mengerjakan pekerjaan yang ringan-ringan. Kami juga ikut membantu mengangkat material dan menarik konduktor listrik untuk mendirikan tower,” ungkap Putri.
Keduanya mengaku sangat termotivasi agar listrik cepat menyala. Sebab, hadirnya listrik akan banyak membantu warga.
Widya misalnya mengaku sangat puas dengan hasil kerjanya dan rekan-rekannya karena ikut merasakan kebahagiaan ketika melihat wajah-wajah tersenyum gembira karena cahaya listrik.
Bagi Widya ada hal yang sangat menghangatkan hatinya karena yang dilakukan tersebut membantu banyak orang, walaupun terpaksa harus menjalankan ibadah puasa dengan kerja yang berat.
Wajah bahagia dan senyum para korban merupakan hadiah dari jerih payah yang para relawan lakukan. Keduanya mengaku itu merupakan penghargaan tertinggi dari pekerjaan yang telah mereka lakukan.
“Sejak dahulu saya selalu bermimpi bekerja di PLN. Saya senang sekali ketika harapan saya terwujud dan bisa berkontribusi untuk kampung halaman saya,” kata Putri bangga.
Terkait dengan pemberdayaan perempuan, PLN telah menunjukkan komitmennya dengan membangun lingkungan kerja yang inklusif dan setara. Salah satunya dengan peningkatan komposisi perempuan hingga 15 persen pada level pimpinan senior.
Untuk itu, PLN telah membentuk Tim Gugus Tugas Srikandi PLN melalui Gerakan Women Empowerment PLN 2021 #StrongerthanBefore pada 21 April 2021.
Tim ini akan menyiapkan kebijakan yang lebih spesifik terkait kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, serta program-program peningkatan kualitas perempuan di PLN.
Komisaris PLN, Ilya Avianti turut mengapresiasi lahirnya PLN Wowen Empowerement yang yang akan mendukung kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
“Kami mendorong perempuan-perempuan di PLN untuk memiliki kemampuan yang mendukung pekerjaan dan perannya dalam keluarga dan masyarakat, serta meyakini bahwa dirinya penting dan berharga bagi perusahaan,†kata Ilya.
Dan dalam momen peringatan Hari Kartini kali ini, kiranya kiprah Rosalia Widya Astuti Chandra dan Putri Ramadani di garis depan memberikan harapan bagi semua bahwa mimpi besar Kartini bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.
Sumber: ANTARA
https://www.antaranews.com/berita/2114602/kiprah-dua-kartini-pln-dibalik-pembangunan-menara-darurat-pulau-timor






















Leave a Reply