Kiat Bertahan di Tempat Kerja dengan Memperkuat Adaptasi

Redaksi Srikandi BUMN Avatar

Perempuan pada hakikatnya memiliki beberapa keunggulan saat berperan dalam dunia kerja. Seorang pekerja perempuan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap peluang sehingga mendorong kontribusinya ke institusi tempatnya bekerja. Perempuan juga cakap dalam berkomunikasi karena memiliki social sensitivity seperti empati dan peka terhadap kebutuhan rekan kerja di sekitarnya hingga mampu mengelola risiko dengan berpikir cepat dalam mencari solusi.

Namun demikian, dari semua kelebihan yang dimiliki tersebut, belum mampu mengangkat posisi perempuan dalam beberapa posisi strategis dalam dunia kerja. Jika pun ada, masih bisa dihitung jari. Seperti yang tercatat dalam sebuah data International Labour Organization (ILO) 2023 pada databoks.katadata.co.id yang menunjukkan kesenjangan kerja pada perempuan masih berada di angka 220,7 Juta perempuan.

Faktor kesenjangan kerja tersebut salah satunya adalah kurang mampunya seorang perempuan bertahan dalam lingkungan kerja karena menghadapi berbagai masalah. Permasalahan tersebut datang dari faktor internal dan eksternal. Tentu saja berbagai permasalahan tersebut harus dipecahkan agar perempuan dengan berbagai talentanya dapat menyalurkan kemampuannya pada berbagai aktualisasi yang dapat memberikan dampak baik, apakah bagi lingkungannya tempat berkarya atau di luar lingkungan kerjanya.

Untuk menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut, perlu diketahui akar permasalahannya sebagai berikut:

Faktor Internal

Berikut adalah beberapa faktor internal yang memengaruhi kesenjangan di tempat kerja:

  1. Rasa tidak percaya diri yang berlebihan. 
  2. Selalu membandingkan diri dengan orang lain.
  3. Cenderung membatasi diri. 
  4. Kurang mampu mengeksplorasi potensi dirinya.
  5. Mengalami Impostor Syndrome atau lebih dikenal sindrom penipu, menurut Psikolog Analisa Widyaningrum Impostor Syndrome adalah keadaan di mana seorang perempuan yang memiliki berbagai kelebihan namun tidak mampu menghargai dirinya sendiri dan tidak merasa patut atas kemampuan yang dimilikinya.

Faktor Eksternal

Sedangkan faktor eksternal yang memengaruhi kesenjangan di tempat kerja adalah:

  1. Minimnya support system di tempat kerja seperti tidak adanya cuti haid dan durasi cuti melahirkan yang terlalu singkat.
  2. Tidak diberikan cuti bagi laki-laki yang istrinya melahirkan.
  3. Kurangnya inisiatif perusahaan dalam menyediakan fasilitas daycare dan ruang laktasi.
  4. Proses penilaian kinerja yang tidak transparan dan tidak adil.
  5. Budaya kerja tidak inklusif.
  6. Stereotip gender yang kuat melekat juga menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi seorang perempuan dalam dunia kerja yang harus meningkatkan kemampuannya baik secara teknis sekaligus meningkatkan strategi dalam mengatasi stereotip tersebut dengan berbagai pembuktian. 

Proses Adaptasi Sebagai Solusi

Dalam prosesnya, mulailah dengan mengenali diri sendiri dan meyakini bahwa setiap masalah dapat diatasi dengan kemampuan yang dimiliki. Percayalah bahwa keunikan dan potensi diri adalah kekuatan utama. Tanamkan growth mindset agar terus termotivasi untuk mengembangkan potensi yang akan memperkuat posisi di tempat kerja.

Jalin hubungan baik dengan semua rekan kerja, baik perempuan maupun laki-laki. Dalam rapat atau pertemuan, usahakan selalu aktif memberikan kontribusi dan menunjukkan inisiatif tinggi untuk memaksimalkan tanggung jawab. Hal ini akan membuka peluang penerimaan dari rekan kerja, yang pada akhirnya akan mendatangkan berbagai dukungan dalam jangka panjang.

Gunakan komunikasi asertif untuk memastikan proses adaptasi berjalan efektif. Komunikasi asertif adalah cara menyampaikan informasi penting dengan sikap terbuka, meskipun topiknya mungkin menimbulkan perbedaan pendapat atau ketidaknyamanan. Dengan tetap tegas dan penuh instruksi, komunikasi ini harus tetap menghargai lawan bicara dan menekankan solusi yang menguntungkan semua pihak.

Dukungan Organisasi dalam Proses Adaptasi

Organisasi atau perusahaan pun wajib hadir dalam upaya menumbuhkan proses adaptasi karyawannya dalam menumbuhkan lingkungan kerja yang inklusif dan kolaboratif untuk menumbuhkan tingkat resiliensinya. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara:

  1. Menciptakan program kerja berbasis tim dan melibatkan kolaborasi antara laki-laki dan perempuan.
  2. Menghapus bias gender dalam menentukan kebijakan strategis seperti penilaian kinerja, promosi hingga pemberian gaji.
  3. Menyediakan capacity building dalam setiap departemen. 
  4. Setiap departemen diberikan kesempatan mempelajari program capacity building dari departemen lainnya sehingga semua karyawan memiliki skills dasar antar departemen.
  5. Membantu karyawan untuk mengenal tempat kerja secara menyeluruh agar dapat mengenal fungsi dalam setiap departemen.

Dari semua upaya tersebut, karyawan menjadi lebih mampu dalam memperkuat proses adaptasi pada situasi apapun di lingkungan kerjanya dan hal ini juga berdampak pada meningkatnya resiliensi dan produktivitas kerja.

Tagged in :

Leave a Reply