
Srikandi, jika ingin merasakan dampak positif yang lebih banyak dari rutinitas kerja, salah satunya bisa didapatkan dari cara masing-masing individu memaksimalkan kerja yang kolaboratif. Karena pada umumnya, masih banyak lingkungan kerja yang menganut sistem senioritas dan manajemen statis. Mengakibatkan kecenderungan budaya kerja yang hanya mengacu pada arahan senior tanpa menerima keterbukaan terhadap perkembangan sistem. Sehingga hasilnya tidak mengalami banyak perubahan yang lebih baik.
Sistem kerja kolaboratif ini salah satunya adalah sikap saling menghargai terhadap kemampuan dan keahlian tim kerja yang berbeda. Baik atasan maupun bawahan. Dalam sebuah manajemen perusahaan, tentu diperlukan berbagai keahlian di berbagai bidang. Seperti keuangan, operasional, pemasaran, HRD, partnership, dan bagian-bagian lainnya. Semuanya saling terhubung dan memiliki ketergantungan satu sama lain.
Prinsip menghargai expertise tim kerja, mencakup semua level pekerjaan. Termasuk atasan pun wajib menjunjung etika saling menghargai keahlian semua rekan kerja dan bawahannya.
Mengapa menghargai expertise penting?
Menurut sebuah ulasan dari artikel jurnal Edmondson, A. C. (1999). Psychological Safety and Learning Behavior in Work Teams, menyebutkan bahwa tim yang menghargai expertise cenderung lebih mampu belajar dan beradaptasi. Konsep psychological safety menunjukkan keyakinan bersama bahwa anggota tim aman untuk mengambil risiko interpersonal, hal ini berpengaruh terhadap rasa aman pada saat memberikan kontribusi melalui expertise-nya yang memperoleh feedback ahli- ahli dalam tim. Sehingga dapat saling memberikan masukan berharga sebagai penyempurna ide dan ada yang memperingatkan potensi kesalahan. Output-nya terjadi potensi inovasi, dan mitigasi risiko berkurang.
Artikel jurnal tersebut juga menjelaskan bahwa dengan saling menghargai expertise tim kerja, berpengaruh pada performa kerja yang baik dan sukses. Kesuksesan sebuah tim kerja bergantung pada proses kerja sama yang efektif. Seperti komunikasi terbuka, pembagian peran yang jelas, dan mekanisme umpan balik. Artinya, menghargai expertise harus disertai kemampuan organisasi mengatur interaksi antar ahli.
Praktik profesionalisme yang menghargai expertise untuk pemimpin
- Ciptakan psychological safety dan budaya belajar
Seorang pemimpin yang berkapasitas memahami bahwa psychological safety dan budaya belajar hanya dapat tumbuh ketika ego pribadi tidak ditempatkan di depan. Pemimpin tidak seharusnya beranggapan bahwa karena jabatannya, hanya ide dan aspirasinya sendiri yang layak dijalankan. Apalagi ketika bidang keahliannya belum tentu selaras dengan kebutuhan pekerjaan.
Dalam beberapa kondisi, pemimpin hanya mengenal expertise bawahannya secara garis besar, sementara para anggota tim justru memiliki pengetahuan yang jauh lebih mendalam di bidangnya. Karena itu, pemimpin yang baik akan menempatkan peran masing-masing sesuai kapasitas dan keahlian, memberi ruang bagi tim untuk bersuara, dan membangun harmoni kolaborasi yang sehat.
- Memberikan pengakuan terhadap peran dan kontribusi
Srikandi, siapa yang tidak senang ketika tim kerja berhasil mendapatkan sponsorship untuk acara perusahaan atau menjalin kerja sama jangka panjang dengan vendor yang tepat? Tentu ada rasa bangga karena telah memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan. Dalam skala sekecil apa pun, apresiasi dari pimpinan, baik berupa pujian verbal maupun reward, akan menjadi penyemangat besar bagi tim untuk terus berkarya sesuai kapasitasnya. Pada akhirnya, pemimpin yang baik tidak akan sungkan mengakui dan menghargai kemampuan bawahannya, termasuk kemampuan yang mungkin tidak dimilikinya sendiri.
Praktik profesionalisme yang menghargai expertise untuk tim kerja
1. Memperjelas peran
Agar expertise dapat dimanfaatkan secara tepat dan fungsional, setiap anggota tim perlu memahami peran serta area tanggung jawab masing-masing. Job description yang jelas dan peta kompetensi yang tertata akan membantu mencegah tumpang tindih pekerjaan maupun konflik ego. Pendekatan ini juga memastikan keselarasan antara tugas dan keahlian (expertise-contribution fit), sehingga kapasitas individu dapat dimaksimalkan. Jika ternyata area kerja yang diberikan tidak sesuai, jangan ragu untuk melakukan konfirmasi kepada atasan. Langkah ini bukan hanya untuk memastikan porsi kerja yang tepat, tetapi juga untuk menjaga agar tugas utama tidak terbengkalai.
2. Bangun mekanisme pertukaran pengetahuan
Ritual tim seperti brown‑bag sessions, atau rolling tugas memungkinkan pekerja ahli di berbagai bidang dapat berbagi pengetahuan secara terstruktur. Dokumentasi praktik terbaik dan basis pengetahuan internal juga membantu menyebarkan expertise ke seluruh tim sehingga pengetahuan tidak tersimpan hanya pada satu orang dan tidak mengendap begitu saja.
3. Manajemen keragaman keahlian dan hirarki informal
Keragaman expertise memang dapat menjadi sumber kreativitas, tetapi jika tidak dikelola dengan baik, hal itu bisa memunculkan hirarki informal yang justru menghambat kolaborasi. Karena itu, pemimpin perlu peka terhadap dinamika tersebut. Pemimpin perlu menyeimbangkan keputusan teknis dengan membuka ruang bagi setiap anggota tim yang memiliki kapasitas sesuai untuk memberikan masukan. Pendekatan ini memastikan setiap keahlian dapat berkontribusi secara optimal tanpa mengesampingkan anggota lain yang layak diperhitungkan.
Profesionalisme dalam tim bukan hanya soal aturan formal, tetapi tercipta ketika organisasi benar-benar menghargai expertise setiap anggotanya dan menata sistem agar kontribusi tersebut dapat dimaksimalkan. Menghargai keahlian berarti membangun psychological safety, memperjelas peran, menyediakan ruang berbagi pengetahuan, serta menumbuhkan budaya apresiasi.
Ketika expertise dihargai, dampaknya juga terlihat pada meningkatnya loyalitas karyawan. Pengakuan atas kemampuan mereka membuat anggota tim lebih bersemangat untuk berkarya dan memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan. Ini menjadi bentuk timbal balik yang sehat. Pimpinan dan rekan kerja memberikan dukungan, sementara karyawan membalasnya dengan performa dan dedikasi yang lebih kuat.


















Leave a Reply