
Peringatan Hari Perempuan Internasional setiap 8 Maret menjadi momentum penting untuk mengingat perjuangan panjang perempuan di berbagai bidang kehidupan. Dalam semangat tersebut, Srikandi Danantara mendorong perempuan untuk terus berkarya dan berdaya di dunia kerja. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan kapasitas diri, penguatan solidaritas antarsesama perempuan, serta kehadiran perempuan dalam berbagai posisi strategis. Dorongan ini menjadi bagian dari komitmen untuk menciptakan ruang kerja yang lebih inklusif. Selain itu, langkah ini juga membuka peluang yang lebih luas bagi perempuan untuk berkontribusi dalam pembangunan.
Berdasarkan informasi dari situs International Women’s Day, peringatan Hari Perempuan Internasional berawal dari gerakan perempuan pekerja pada awal abad ke-20. Gerakan ini menuntut kesetaraan hak, kondisi kerja yang lebih baik, serta hak memilih. Clara Zetkin mengusulkan gagasan peringatan Hari Perempuan secara global dalam Konferensi Perempuan Pekerja Internasional tahun 1910 di Kopenhagen. Seiring berkembangnya gerakan perempuan di berbagai negara, dunia kemudian menyepakati tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional. Tanggal tersebut kini menjadi momentum untuk merayakan pencapaian perempuan. Momentum ini juga mendorong upaya mewujudkan kesetaraan gender.
Seiring perkembangan zaman, peringatan Hari Perempuan Internasional tidak lagi hanya menjadi refleksi sejarah. Peringatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat peran perempuan dalam berbagai sektor, termasuk dunia kerja. Saat ini, semakin banyak perempuan yang menunjukkan kapasitasnya sebagai profesional, inovator, dan pemimpin. Mereka mampu memberikan kontribusi nyata bagi organisasi maupun masyarakat.
Di tengah perubahan yang semakin dinamis, perempuan tidak hanya perlu mampu beradaptasi. Perempuan juga memiliki kesempatan untuk mengambil peran strategis dalam pengambilan keputusan. Kehadiran perempuan dalam dunia kerja membawa perspektif yang lebih beragam. Hal ini memperkaya cara pandang dalam menyelesaikan persoalan serta memperkuat budaya kerja yang kolaboratif.
Baca juga: Srikandi Danantara Berbagi Tips Menjadi Perempuan Produktif Selama Bulan Ramadan
Semangat pemberdayaan perempuan tersebut juga tercermin melalui kepemimpinan perempuan yang hadir sebagai penggerak perubahan di berbagai organisasi. Salah satu figur yang aktif mendorong penguatan peran perempuan di dunia kerja adalah Ketua Srikandi Danantara, Fikha Lutfi.
Kak Fikha merupakan sosok profesional yang saat ini menjabat sebagai Ketua Srikandi Danantara sekaligus dikenal aktif mendorong penguatan kepemimpinan perempuan di berbagai sektor. Ia memiliki latar belakang pendidikan internasional dari University of Birmingham, Inggris, serta mengikuti program Executive Education di Wharton School, University of Pennsylvania dan University of Virginia Darden School of Business. Sebelum menjabat sebagai Ketua Srikandi Danantara, Kak Fikha telah memiliki perjalanan karier yang kuat di bidang pengembangan sumber daya manusia (Human Capital), termasuk pernah berperan sebagai Head of Organization and Talent Management di holding industri pertambangan MIND ID serta pernah menjabat sebagai Kepala Divisi Human Capital ANTAM. Dengan pengalaman profesional tersebut, Kak Fikha dikenal sebagai figur yang konsisten mendorong pengembangan talenta perempuan serta menciptakan ruang kerja yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dalam momentum Hari Perempuan Internasional, Kak Fikha Lutfi juga menekankan pentingnya solidaritas antarperempuan untuk saling menguatkan dan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Melalui kepemimpinannya di Srikandi Danantara, ia mendorong perempuan Indonesia untuk berani mengembangkan potensi diri, memperluas kontribusi di dunia kerja, serta terus menghadirkan karya dan inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Baginya, pemberdayaan perempuan tidak hanya tentang kesempatan untuk maju secara profesional, tetapi juga tentang menghadirkan nilai empati, kolaborasi, serta kepemimpinan yang mampu membawa perubahan positif bagi lingkungan kerja dan kehidupan sosial.
Momentum Hari Perempuan Internasional menjadi refleksi bagi Srikandi Danantara untuk mendorong perempuan terus berkarya dan berdaya di dunia kerja. Upaya ini dilakukan melalui langkah-langkah sederhana namun berdampak.
1. Menguatkan kapasitas diri sebagai perempuan profesional
Perempuan perlu terus mengembangkan kemampuan diri agar mampu beradaptasi dengan dinamika dunia kerja yang semakin cepat. Perempuan dapat memperkuat kapasitasnya melalui peningkatan keterampilan, memperluas wawasan, serta membangun kepercayaan diri dalam mengambil peluang. Ketika perempuan memiliki bekal kompetensi yang kuat, maka kontribusi mereka pun akan semakin besar, baik bagi organisasi maupun bagi lingkungan sekitarnya.
Selain itu, menjaga keseimbangan antara kesehatan mental, fisik, dan pengembangan diri juga menjadi bagian penting. Perempuan yang mampu merawat diri dengan baik akan memiliki energi positif untuk terus berkarya dan memberikan dampak yang lebih luas.
2. Mendorong kontribusi dan kolaborasi perempuan di lingkungan kerja
Perempuan dapat mulai mengambil peran aktif dalam membangun lingkungan kerja yang saling mendukung dan inklusif. Beberapa langkah berikut dapat mewujudkan bentuk kontribusi ini:
Membangun budaya saling mendukung antarperempuan di tempat kerja agar tercipta lingkungan profesional yang kolaboratif dan saling menguatkan.
Berani menyampaikan gagasan dan perspektif dalam forum diskusi, rapat, maupun ruang kolaborasi lainnya sebagai bagian dari kontribusi terhadap pengambilan keputusan.
Mengembangkan jejaring profesional perempuan, baik melalui komunitas, organisasi, maupun forum pengembangan karier untuk memperluas kesempatan belajar dan berkolaborasi.
Mendukung karya dan inovasi perempuan, termasuk produk atau usaha yang perempuan jalankan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi.
3. Memperkuat peran kepemimpinan perempuan
Semakin banyak perempuan yang mengambil peran kepemimpinan, semakin terbuka pula ruang bagi lahirnya kebijakan yang lebih inklusif di tempat kerja. Perempuan dapat berperan aktif dalam mendorong kebijakan yang memberikan kesempatan setara dalam pengembangan karier, peningkatan kompetensi, serta sistem kerja yang lebih ramah bagi semua pihak.
Kepemimpinan perempuan juga menghadirkan pendekatan yang kolaboratif dan empatik dalam mengelola tim. Nilai tersebut menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun budaya kerja yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Melalui langkah-langkah tersebut, perempuan tidak hanya memperkuat posisinya di dunia kerja, tetapi juga membuka jalan bagi generasi perempuan berikutnya untuk tumbuh dan berkembang dengan lebih percaya diri. Semangat inilah yang terus didorong oleh kak Fikha Lutfi dalam momentum Hari Perempuan Internasional untuk menghadirkan perempuan yang berkarya, berdaya, dan memberi dampak nyata bagi masa depan.


















Leave a Reply