
Srikandi, bagi sebagian perempuan yang menjalani pekerjaannya dari bawah kerap memerlukan adaptasi pada saat menapaki peningkatan dalam kariernya. Mengingat budaya kerja yang terbiasa mengakomodir berbagai kebutuhan di lingkungan pekerjaannya dapat memengaruhi langkahnya ketika harus memosisikan diri sebagai pemimpin. Di saat menjadi pemimpin, tentu saja harus ada penyesuaian terhadap kebiasaan-kebiasaan lama yang berpotensi permisif dan kurang menumbuhkan karisma.
Menurut ulasan dari Buku How Women Rise yang ditulis oleh Sally Helgesen dan Marshall Goldsmith, ditemukan bahwa banyak perempuan yang terlalu nyaman dalam kinerja yang tidak adaptif padahal kompetensinya sangat baik. Dalam buku tersebut disebutkan dua belas kebiasaan yang perlu menjadi fokus perhatian oleh para perempuan profesional yang sedang meningkatkan karier.
Penjabaran 12 kebiasaan dari Buku How Women Raise
1. Tidak mengakui pencapaian atau prestasi sendiri
Beberapa perempuan merasa tidak percaya diri pada saat dituntut untuk mengkomunikasikan pencapaiannya dalam forum atau rapat kerja baik internal maupun eksternal karena takut dianggap mencari perhatian dan berbagai tuduhan buruk yang sebenarnya hanya cerminan ketakutannya sendiri. Pencapaian seseorang tak akan berkembang jika tidak dikomunikasikan kepada pihak lain karena prestasi yang diraihnya tidak mampu membangun manfaat lebih luas lagi.
Selain itu, seorang profesional yang enggan mengapresiasi pencapaiannya akan kehilangan kesempatan dalam membangun reputasinya sebagai seorang profesional yang memiliki kredibilitas.
2. Mengandalkan keputusan orang lain
Punya keinginan untuk terlihat namun tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan kontribusinya baik yang telah dilakukan maupun yang masih dalam proses rencana. Perlu diketahui bahwa atasan dan rekan kerja memiliki fokus masing-masing dan dinamika di tempat kerja pun cukup menyita perhatian dan energi tersendiri. Jadi, bagi para profesional yang memiliki prinsip, sebaiknya suarakan segala aspirasi dan kontribusi tersebut agar terdengar dan terlihat.
Seorang profesional yang tidak memiliki keberanian untuk menawarkan kemampuannya untuk diaplikasikan dalam memecahkan suatu masalah dalam perusahaan, kemampuannya tidak akan tersalurkan dengan baik.
3. Kurangnya Soft Skills
Soft skills adalah keahlian yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin, keahlian ini terdiri dari sikap kepemimpinan yang baik, cakap menyusun strategi, mampu berpikir kritis dan proaktif serta memiliki empati yang tinggi. Jadi, memiliki keahlian soft skills di samping keahlian teknis adalah sangat penting bagi seorang pemimpin profesional.
4. Tidak memanfaatkan relasi yang dibangunnya
Perempuan memiliki kemampuan baik dalam berjejaring dan menjalin hubungan jangka panjang dengan berbagai pihak. Dalam membangun jejaring tersebut, banyak perempuan yang kurang memanfaatkan hubungan baik tersebut untuk menunjang pekerjaannya. Misalnya, soal sponsorship dengan benefit value yang seimbang atau meminta bantuan dalam membangun program partnership jangka panjang. Keengganannya dalam memanfaat relasi tersebut membatasi langkahnya untuk berkembang terutama dalam proses ekspansi program yang dibangunnya ke lingkup eksternal.
5. Tidak mencari dukungan
Perempuan profesional yang mendapatkan peran baru, terlalu mengandalkan kemampuan seadanya, misalnya tidak mencari mentor untuk mengarahkan langkahnya atau tidak berusaha meningkatkan kemampuan melalui berbagai cara, seperti mengikuti kursus keahlian yang lebih mahir atau tidak terhubung dengan para profesional lainnya untuk mendapatkan insight.
6. Terlalu fokus pada pekerjaan dan mengabaikan karier
Terjebak dalam zona nyaman dan pekerjaan rutin yang selama ini dianggapnya sebagai lahan aman sehingga membuat perempuan tidak memikirkan jenjang karier yang potensial bagi dirinya.
7. Perfeksionis
Produktivitas menurun karena waktu dan energinya terkuras untuk menjadi selalu sempurna dan berusaha meyakinkan orang lain setuju dengan pendapatnya. Seorang profesional yang tidak fleksibel, tidak terbuka dengan sesuatu yang baru dan relevan dengan berbagai kondisi.
8. Cenderung ingin menyenangkan semua orang
Sulit menolak, terlalu menurut dengan aspirasi orang lain dan sering membantu orang lain di luar kapasitasnya, kondisi ini dapat merugikan dirinya sendiri karena saat dirinya berkontribusi, bukan tulus untuk menolong namun ada kecenderungan ingin disukai banyak orang atau merasa takut dijauhi orang lain. Kondisi ini membuat lupa dengan prioritasnya sendiri.
9. Mengecilkan diri
Pribadi yang mengizinkan dirinya diremehkan oleh orang lain selalu mengucapkan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu, misalnya mengatakan “Ah, itu kan gak seberapa, saya cuma bantu sedikit.†Atau “Saya melakukannya kurang maksimal, tapi semoga membantu.†Contoh ungkapan tersebut dapat memengaruhi persepsi orang lain terhadap kontribusi yang sebenarnya layak diapresiasi malah menjadi kurang nilainya.
10. Terlalu terbuka saat berbicara
Terbuka dengan lingkungan sangat dianjurkan agar mendapatkan banyak insight dan memperoleh timbal balik yang mudah dalam setiap komunikasinya. Hal yang penting diperhatikan adalah, terbukalah dengan penuh perhitungan agar tidak menimbulkan intimidasi dari pihak yang tidak sejalan. Sikap terlalu terbuka juga berpotensi tercurinya berbagai ide strategis yang hanya boleh diketahui oleh beberapa pihak saja malah bocor ke pihak yang tidak berkepentingan.
11. Kesalahan dianggap penghambat
Setiap perempuan yang cenderung merasa bersalah dengan kesalahan-kesalahan di masa lalu padahal masalahnya sudah selesai akan menghambat kemajuan karena tidak menganggap kesalahan sebagai sebuah proses untuk berkembang lebih baik lagi. Seseorang tanpa kesalahan tidak akan pernah terlatih bagaimana caranya berproses dengan melihat poin-poin kesalahannya untuk diperbaiki dan mencari solusi terbaik dari pemikirannya.
12. Terlalu sensitif dengan lingkungan sekitarnya
Fokus pada prioritas sendiri akan terlupakan jika terlalu banyak menyerap masalah orang lain dengan menyerap energi dan pikiran untuk mencarikan penyelesaian masalah orang lain tanpa menerapkan batas. Kepekaan terhadap masalah di lingkungannya tentu saja harus proporsional dan tidak melebihi batas kemampuan agar tidak mengakibatkan prioritasnya terabaikan.
Srikandi, itu dia 12 hal yang patut diwaspadai oleh para profesional perempuan pada saat dirinya diberikan kesempatan untuk menapaki karier dengan jenjang yang lebih tinggi. Proses adaptasi, keberanian mengungkapkan aspirasi hingga menyusun strategi dalam membangun kepemimpinannya yang adaptif dan menjunjung tinggi profesionalitas.


















Leave a Reply