Pentingnya Memiliki Mental Humility Bagi Seorang Pemimpin

Redaksi Srikandi BUMN Avatar

Srikandi, pernahkan menemukan situasi saat seorang pemimpin membutuhkan partisipasi tim kerja dalam ide kreatif dan inovatifnya, namun mereka enggan untuk berpartisipasi? Setelah ditelisik, ternyata tim kerja yang potensial memberikan ide segar tersebut merasa sungkan karena takut salah dan dianggap melangkahi pimpinannya. Tentu saja hal seperti ini tidak boleh dibiarkan terus terjadi, karena akan menghambat kontribusi tim kerja terhadap pekerjaan.

Salah satu solusinya adalah fokus pada pembenahan karakter pemimpin dalam tingkatan apapun. Karakter pemimpin yang dibutuhkan dalam memberdayakan tim kerja salah satunya adalah memupuk mental humility. Menurut sumber pada artikel jurnal National Institutes of Health yang ditulis oleh Owens dan Hekman, prinsip humble leadership memiliki pengaruh positif terhadap komitmen afektif, kepercayaan afektif, kreativitas, keterlibatan, kepuasan kerja hingga kualitas hubungan pemimpin. Temuan ini menegaskan bahwa humility merupakan salah satu faktor yang menyumbang terhadap efektivitas kepemimpinan yang berdampak luas.

Mental humility merupakan kesadaran akan batasan pengetahuan dan kemampuan diri, disertai keterbukaan menerima masukan, belajar dari orang lain dan mampu mengakui kesalahan. Ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang memperkuat kepercayaan dan keberanian untuk berkembang.

Pengaruh mental humility pada kepribadian pemimpin

Pemimpin yang rendah hati umumnya memiliki kecerdasan emosional yang proporsional dan mampu mengendalikan ego yang menghasilkan keputusan bijak. Dampak positif tersebut berasal dari akumulasi sikap pemimpin yang menanamkan inklusivitas secara konsisten. Misalnya, pemimpin selalu memberikan ruang bagi ide-ide baru dari hasil pemikiran anggota tim.

Karakter pemimpin dengan humility mencerminkan pemimpin yang memiliki kedewasaan empati dan mampu mengayomi semua anggota tim kerja dengan adil. Jika ada kritik yang disampaikan pun pemimpin akan menerimanya sebagai bahan untuk evaluasi dan memperbaiki diri.

Pengaruh mental humility terhadap pekerjaan tim

Mental humility menjadi fondasi dalam membangun kolaborasi. Pemimpin rendah hati mampu mendengarkan dan menghargai kontribusi tim, menciptakan suasana di mana setiap anggota merasa dihargai dan berani berinovasi. Tim kerja akan merasa aman secara psikologis dan leluasa saat berekspresi ketika memberikan kontribusi nyata untuk kepentingan bersama. Karena mereka tidak merasa takut salah atau takut tidak diterima pendapatnya.

Dampaknya adalah tim menjadi lebih kreatif, kolaboratif dan produktif dalam jangka panjang karena tim kerja mereka diberikan ruang dan terfasilitasi atas aspirasi dan karyanya.

Melanjutkan pengembangan diri tanpa kehilangan mental humility

Pemimpin yang menyadari keterbatasan bukan berarti membiarkan begitu saja kekurangannya tidak diperbaiki, namun pemimpin yang bijak akan terus meningkatkan kapasitasnya dengan lifelong learning. Walaupun pemimpin tetap melakukan upskill tetap bermental humility.

Supaya pemimpin tidak kehilangan mental humility pada saat dirinya menduduki kursi kepemimpinan dengan wawasan yang lebih luas maka strategi berikut ini sebaiknya dilakukan:

1. Belajar berkesinambungan

Pemimpin yang rendah hati memosisikan diri sebagai pembelajar, bukan merasa lebih tahu segalanya. Jadi, walaupun sudah menguasai suatu hal, tetap memiliki pemikiran terbuka terhadap ide dan kreativitas orang lain terutama dalam tim kerja.

2. Menciptakan kolaborasi dengan bertukar pengetahuan

Lakukan cross knowledge dengan lintas generasi di ekosistem lingkungan kerja. Pemimpin yang bijaksana, tidak segan untuk saling belajar dan menerima pengetahuan yang tak dimilikinya dari teman sejawat, atasan bahkan bawahannya yang memiliki kompetensi di bidang lain.

3. Refleksi & Evaluasi

Melalui refleksi diri, seorang pemimpin dapat menyadari kekurangannya serta bersedia untuk berproses dalam meningkatkan berbagai sisi kekurangannya dengan tindakan yang jujur. Melalui refleksi diri yang jujur, dapat memudahkan melihat area yang perlu diperbaiki dan tidak terjebak dalam kepuasan diri yang berlebihan.

4. Mengajar dua arah

Mengajar bukan hanya soal transfer ilmu, melainkan membuka ruang dialog agar pengetahuan berkembang bersama. Dengan mental humility, seseorang tidak merasa paling tahu, tetapi melihat setiap interaksi sebagai kesempatan untuk bertumbuh sekaligus memberikan manfaat.

5. Growth mindset

Mental growth mindset dapat mendorong untuk terus meningkatkan kapasitas dan mengembangkan diri melalui berbagai upaya, pengalaman dan pembelajaran. Sikap growth mindset tentunya harus disertai dengan kerendahan hati, yaitu tetap mengakui kontribusi orang lain dan menghargai proses, mengakui bahwa hasil pekerjaan adalah kontribusi tim kerja.

6. Fokus pada kebutuhan tim

Pada saat meningkatkan kapasitas, niatkan dan buat komunikasi terbuka kepada tim kerja, informasikan bahwa pelatihan atau program belajar dari seminar, symposium atau apapun bentuknya adalah bertujuan untuk meningkatkan kapasitas untuk kepentingan bersama dan mempermudah proses kolaborasi antara atasan dan pimpinan.

Dengan mental humility, pemimpin tidak sekadar menunjukkan otoritas, tetapi menjadi teladan dalam keterbukaan, empati, dan keberanian untuk berkembang bersama tim. Pada akhirnya, kerendahan hati mental membuat kepemimpinan lebih manusiawi dan relevan di tengah dinamika perubahan.

Tagged in :

Leave a Reply