Flexi-Time, Jurus Perempuan dengan Karir

Redaksi Srikandi BUMN Avatar
Ilustrasi (Foto: Ketut Subiyanto – Pexels)

Perempuan di lingkungan perkantoran kerap harus menyesuaikan dengan pola yang ketat dan keras. Mereka tidak memiliki waktu yang fleksibel untuk menyesuaikan diri, kantor, dan keluarga. Padahal, kebebasan untuk mengelola waktu mandiri bagi perempuan kunci bagi dirinya untuk maju dan berkembang.

Flexi-Time sendiri merujuk pada fleksibilitas di tempat kerja bagi setiap karyawannya, khususnya untuk para perempuan. Hal ini sangat diperlukan guna mempertahankan lintasan karirnya pada waktu-waktu genting, khususnya setelah melahirkan.

Dilansir dari IntiPesan, penelitian Dr. Heejung Chung dari Departemen Sosiologi Universitas Tilburg, Belanda, dan Mariska Van Der Horst dari Universitas Kent memperlihatkan bahwa tempat kerja yang terlalu kaku membuat para perempuan cenderung memilih keluarga dibandingkan karirnya. Seringkali, kondisi ini membawa kerugian bagi perusahaan. Pasalnya, mereka kerap melepaskan karyawan yang memiliki kemampuan, produktivitas, dan kinerja yang tinggi.

Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa perempuan yang mampu menggunakan Flexi-Time cenderung mengurangi jam kerja mereka paska melahirkan. Kesempatan ini mereka gunakan untuk meringankan beban sejenak dan membantu menyeimbangkan karir dan kehidupan keluarga. Kondisi ini memungkinkan para ibu untuk mempertahankan status pekerjaan yang berimplikasi besar terhadap produktivitas perusahaan.

Keberadaan Flexi-Time dalam perusahaan sebenarnya mampu meningkatkan produktivitas mereka. Dilansir dari Talenta.co, penelitian The Motley Fool tentang Flexi-Time mampu meningkatkan produktivitas 60 persen karyawan daripada mereka yang hanya bekerja secara rutin. Karena mereka mampu mengelola waktu dengan lebih baik, umumnya para karyawan bekerja pada waktu yang paling maksimal menurut mereka. Kelebihan lainnya, kesalahan akibat galat manusia dan lembur bisa dihindari.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kebahagiaan karyawan meningkat 10 persen. Sebanyak 74 persen responden juga menyatakan bahwa kehidupan pribadi dan kantor menjadi lebih seimbang. Bagi suami-istri yang sama-sama bekerja, Flexi-Time membantu keduanya mengatur jam kerja serta mengelola anak dan rumah tangga dengan lebih baik. Dalam hal ini, 84 persen karyawan yang memiliki anak menjadikan Flexi-time sebagai faktor paling penting dalam memilih pekerjaan.

Leave a Reply