
Bukan orang aviasi, tetapi harus mengurusi industri penerbangan. Inilah sosok Devy Suradji, Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT Angkasa Pura I (Persero). Alih-alih pesimis, tanggung jawab yang diemban Devy Suradji tersebut menjadikan pelayanan bandara-bandara kelolaannya justru meraih berbagai pengakuan, baik pada tingkat nasional maupun internasional.
Sejak 22 Desember 2017 silam, Devy turut mengatur dan mengoperasikan 13 bandar udara (saat ini 15 bandar udara), 5 anak perusahaan, serta 1 Strategic Business Unit di lingkungan Angkasa Pura I. “Saya tidak punya dasar aviasi, tetapi saya (hanyalah) penumpang,” ungkap Devy, dikutip dari Tribun Bali, kala harus menceritakan pekerjaannya kini. Baginya, layanan bandara justru harus berasal dari perspektif penumpang, sehingga mampu memberikan pelayanan yang prima dan membahagiakan untuk masyarakat pengguna jasa industri penerbangan.
Lebih lanjut, alumni Perikanan Institut Pertanian Bogor ini menilai bahwa, pemasaran dan pelayanan merupakan dua hal yang saling menguatkan satu sama lain. Pelayanan sendiri mendorong pendapatan sebuah bandar udara. “Service saya jadikan driver income, bukan (sebagai) biaya,” ungkapnya.
Menjadi sosok yang terdepan dalam bidang pelayanan bandar udara di Indonesia, membuat Devy harus selalu siap terbang minimal ke-15 lokasi bandar udaranya berada. Pada titik ini, mantan Komisari PT Telkom ini harus mampu menjaga keseimbangan antara karir dan keluarga. Baginya, di dalam rumah, dirinya tetap seorang ibu bagi kedua anaknya, istri dari suaminya, dan anak yang merawat kedua orang tuanya. Peran tersebut tidak boleh terlewat sedikit pun.
Sejak menikah, Devy dan suaminya sama-sama sepakat untuk menjalani karir di bidang profesional. Namun, ketika menginjak rumah, mereka harus mengembalikan perannya sebagai anggota keluarga. Dilansir dari Jawa Pos, sang suami pun diakui Devy menjalankan perannya sebagai ayah dan suami yang penuh tanggung jawab. Adapun dirinya sebagai istri harus mampu melayani suami dengan baik. Bila dirinya tidak bisa pulang karena urusan pekerjaan, sebisa mungkin peraih gelas master dari Environmental Health Management New Haven University, Connecticut, Amerika Serikat ini, memastikan kebutuhan suami dan anak-anaknya tercukupi.
Aspek lainnya yang juga penting ialah komunikasi dengan sesama anggota keluarga. Kepada sang suami, Devy kerap bercakap-cakap sebelum tidur, termasuk tentang keluarga. Terhadap anak, perempuan asal Jakarta ini juga tidak hanya menjaga kualitas komunikasi, tetapi juga membangun kesepahaman. Beberapa kali, anak-anaknya diajak ke lapangan untuk melihat aktivitas orang tuanya. Misalnya si bungsu yang pernah diajak ke Papua kala Devy masih bekerja di WWF. Ketika sang anak mengerti, mereka pun mendukung penuh pekerjaan ibunya.
Selain itu juga, ada ritual memeluk sang anak selama lima menit. Menurutnya, kebiasaan ini mampu membangun energi positif kepada anggota keluarga lainnya, sehingga anak-anak tidak kehilangan sosok ibunya kala berangkat bekerja.
Tentang perempuan yang berkarir, Devy memandang bahwa mereka tidak boleh kalah bersaing dengan laki-laki. Perempuan harus mampu membuktikan kapasitas dan kemampuannya dalam konteks profesional. Meskipun demikian, perempuan berusia setengah abad ini mengingatkan agar perempuan tetap pahami kodrat dan peran dalam keluarga.***


















Leave a Reply