Karena Wanita Milenial Ingin Kehidupan yang Seimbang

Redaksi Srikandi BUMN Avatar
Ilustrasi (Foto: Burst – Pexels)

Sebagian besar wanita karir millenial mengharapkan kehidupan yang seimbang antara karir dan personal. Dalam hal ini, mereka yakin untuk mampu menggapai harapan tersebut. Salah satunya dengan memiliki jam kerja yang lebih fleksibel.

Demikian salah satu hasil sebuah survei yang dilakukan oleh Cosmpolitan.co.id. Mereka melakukan survei terhadap 650 responden pekerja wanita kelahiran 1981 hingga 1996 di berbagai kota di Indonesia.

Dalam survei tersebut, 58,3% responden berharap memiliki kehidupan karir dan personal yang seimbang. Hanya 14,2% yang menginginkan pendapatan yang besar dan 13,8% ingin membuat perubahan. Sedangkan responden yang mengharapkan karir dan jabatan serta mendapat pengakuan hanya di bawah 10 persen, masing-masing: 9,1% dan 4,6%.

Tidak hanya berharap, para responden juga merasa mampu meraih visi mereka untuk memiliki kehidupan yang seimbang yang diyakini oleh 77,1% responden. Responden yang satu ini yakin bisa menyeimbangkan antara kehidupan karir, keluarga, dan personal. Bahkan, 65,8% responden percaya bahwa menikah dan punya anak tidak akan menghalangi kemajuan karir mereka. Meskipun demikian, 66% responden tetap mengutamakan kehidupan personal dibandingkan karir.

Bila disuruh memilih antara karir dan keluarga, 60,9% responden mengaku hanya ingin fokus berkarir untuk saat ini. Namun, mereka akan mulai menurunkan tingkat aktivitas dalam berkarir kala menikah dan punya anak kelak. Adapun 22,3% lainnya mengaku akan terus mengejar karir, kendati sudah menikah dan punya anak kelak. Sedangkan 16,8% sisanya mengaku lebih memilih mengurus keluarga jika mereka punya pilihan untuk itu.

Guna mewujudkan harapannya tersebut, para responden mengaku memilih opsi jam kerja yang fleksibel dibandingkan kehidupan 9 to 5 di kantor yang disampaikan oleh 56,6% responden. Sebanyak 58,5 persen menganggap jam kerja fleksibel sebagai sesuatu yang penting dan 35,1% menganggapnya sangat penting. Hanya 6,5% responden yang menilai bahwa pilihan tersebut tidak terlalu penting. Adapun 43,4% responden justru berharap gaji yang lebih tinggi.

Meskipun bekerja merupakan sesuatu yang menarik bagi banyak wanita, tetapi 50,3% responden mengaku lebih memilih untuk membangun usaha mandiri. Sedangkan 49,7% sisahnya tetap memilih untuk meniti karir sebagai karyawan dan bekerja dalam perusahaan.

Lebih lanjut, survei ini juga berusaha mengetahui persepsi wanita tentang tantangan dalam meniti karir di dunia kerja. Sebanyak 89,7 responden merasa bahwa dirinya punya kesempatan yang sama dengan karyawan pria untuk berkembang dalam karir. Adapun 88,2% responden mengaku atasan mereka menganggap para wanita punya suara yang sejajar dengan pria dalam rapat dan momen pengambilan keputusan. Lalu, 88% responden menganggap kantornya memberikan kesempatan yang sama bagi wanita dan pria untuk maju dan berkarir.

Pandangan optimis lainnya muncul dari 61,4% responden yang mengaku ingin menjadi pemimpin di tempatnya bekerja. Selain itu, 48,6 persen responden merasa pemimpin wanita harus lebih banyak berkorban dibandingkan pemimpin pria.

Walaupun responden mengaku memiliki kesempatan yang besar untuk berkarir, uniknya, 68,9% responden justru lebih suka dipimpin oleh atasan pria dibandingkan wanita. Hal ini terkait dengan pelabelan bahwa atasan perempuan lebih bawel dan tukang memerintah dibandingkan pria. Juga terdapat sindrom Ratu Lebah yang berpandangan bahwa para wanita cenderung berlomba menjadi Wanita Alfa dan berusaha menjatuhkan saingannya dibandingkan bekerjasama dan saling mendukung.

Meskipun demikian, ada juga pandangan pesimis terkait kesempatan berkarir bagi wanita. Sebanyak 40,5% responden masih merasa bahwa pria mendapatkan gaji yang lebih besar dibandingkan wanita. Padahal, dalam bekerja, keduanya memiliki beban dan posisi yang sejajar. Sedangkan 20,8% responden merasa bahwa jenis kelamin justru mempersulit kesempatan untuk naik gaji, mendapatkan promosi jabatan, atau terpilih mengikuti pelatihan.***

Leave a Reply